Apa tanda,orang yang kebal,
Tidak mempan, ditusuk besi.
Walau senyum, hukumnya halal,
Lawan jenis bisa, salah arti.
Melompat riang, si anak kancil,
Kancil terjerat, salah sendiri.
Sabar dan ikhlas, membuahkan hasil,
Hasil dikutip, di akhirat nanti.
Harum sekuntum, mekar sejambak,
Taman raudhah, berpagar intan.
Pelanggar hukum, jelas dan tampak.
Masih ada orang , melakukan pembelaan.
Manusia bicara, beo meniru,
Ungkapannya tanpa , perasaan.
Bertasbih bertahmid, biar beribu,
Melanggar hukum, dikutuk Tuhan.
Si tukang kayu, membuat perabot,
Penggali kubur, menjadi bidan
Adzan berkumandang, tiada disahut
Malaikat menangis, karena kasihan.
Gali lubang , timbun lubang,
Orang fakir, berlagak kaya.
Hutang bertimbun, keliling pinggang.
Hendak korupsi, tidak berdaya.
Apa bergelora, di samudra
Jika tidak , arus gelombang
Setiap gerak, tutur kata.
Yang Mahaadil, akan menimbang.
Koleksi Pantun Berkasih sayang
Burung jelatik, burung kedidi,
Sarang tempua, sarang berjuntai;
Sungguhpun cantik, sutera dipuji,
Belacu juga, tahan dipakai.
Berbaju batik bujang kelana,
Duduk bermadah di tilam pandak;
Usah dipetik, si bunga sena,
Warnanya indah, berbau tidak.
Budak-budak , mendayung perahu,
Ketika berdayung, sambil bermain;
Macam mana, bunga tak layu,
Bantuan lepas, di tempat lain.
Cahaya redup, menyegar padi
Ayam berkokok, mengirai tuah
Jikalau hidup, tanpa prestasi,
Umpama kelapa, tidak berbuah.
Seri Andalas, ke kota Ambon,
Hendak mencari, asam paya;
Kasih ibarat, setetes embun,
Ditiup angin, berderailah ia.
Mengapa ribut, di tepi laut,
Ombak menghempas, berderai-derai;
Kusangka tuan, beras pulut,
Ketika ditanak , nasinya berderai.
Nasi dingin, bersayur mumbang,
Sayur dimasak, dalam belanga;
Kami tak ingin, melihat kumbang,
Kalau kumbang, merusak bunga.
Di sana merak , di sini angin,
Merak mana, twerbang dikepung;
Di sana hendak di sini pun ingin,
Orang yang rakus, disepak lambung.
Tuan ketam, padi pulut,
Saya ketam, bunga melati.
Tuan berkata, di mulut,
Saya mendengar, sakit hati.
Dari Padang ke Airtiriis,
Mari dibawa, angin utara;
Berhadapan saja, mulutnya manis,
Tapi di belakang, lain bicara.
Berilah raja, pisau raut,
Hendak meraut, bingkai tudung;
Cita-cita bagaikan, ikan di laut,
Mengidam umpan, di kaki gunung.
Buah cempedak buah nangka,
Ditanam orang , dalam kebun;
Haram tidak , disangka-sangka,
Buah delima, menjadi racun.
Raja di gua, jalan ke teluk,
Cantik halus, roman mukanya;
Ibarat buah, busuk di pokok,
Hilang manis, pahit rasanya.
Meninjau , berpadi masak
Batang kapas, ditabrak teronton.
Para pendatang, tertawa gelak,
Putera daerah, jadi penonton.
Panjanglah rumput, di pematang
Disabit orang, Inderagiri
Koruptor memang, akalnya panjang,
Bisa wisata, ke luar negeri.
Pergi ke hutan, memotong nibung
Parangnya tumpul, tidak diasah
Petir berdentum, kilat bersabung
Hujan tak jadi , orangnhya basah.
Riuh rendah, di tepi teluk,
Lihat orang, membuat tenunan.
Tengah malam, ayam berkokok
Serasa kekasih, yang membangunkan.
Terang bulan, Ranah Singkuang,
Penyair kecil, duduk menghafal,
Tengah malam, Putri terkenang,
Air mata turun, keatas bantal.